Sewaktu pulang dari kantor dan akan mampir ke rumah teman di daerah Tlogosari, saya melihat penjual jamu yang sudah lama sekali tidak pernah saya temui lagi.
Ya, saya menemukan seorang Ibu penjual Jamu Jun. Di namakan jamu jun karena jamu ini di tempatkan dalam jun semacam gentong (wadah air dalam gerabah).
Jamu ini sekarang memang sulit di temui, mungkin terakhir saya minum waktu masih SD, sekitar 25 tahun yang lalu. Misal masih ada pasti penjualnya juga sudah tua seperti penjual es hawa.
Penyajian jamu jun biasanya menggunakan mangkuk. Jamu jun yang konon aslinya dari kota Demak ini terbuat dari campuran air, tepung beras, tepung ketan, santan, gula pasir, gula jawa, daun pandan serta 18 jenis rempah yang di sebut sariwangi batanget. Bahan rempah antara lain jahe, serai, merica dan kayu manis.
Biasanya ketika disajikan, jamu jun akan di tambahi selo (bubuk putih dari bahan herbal), bubuk merica, dan bola-bola kecil berwarna coklat yang biasa disebut krasikan yang terbuat dari parutan kelapa, jahe dan gula merah.
Untuk harga masih relatif murah, dengan Rp.2000 sudah bisa mengenyangkan perut dan menghangatkan badan. Cocok di minum di musim hujan yang sudah mulai datang akhir-akhir ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar